Selamat datang di CaraGampang.Com

Indahnya Saling Menjaga

Senin, 14 Mei 20120 komentar



Cintahakikiindonesia.blogspot.com - “Oh indahnya saling menjaga..saling mengasihi karena Allah...” penggalan lirik Opick dan Amanda yang menyanyikan lagu tentang sedekah sudah beberapa hari ini ku ulangi di HP ku ketika waktu-waktu kosong ku . Ada hal yang begitu saja muncul ketika mendengarkan syair ini. Budaya untuk saling menjaga, saling mengasihi karena Allah. Hmm... terdengar sangat indahkan...?

Penjagaan menurutku adalah sebuah sikap untuk melindungi sesuatu yang kita sayangi. Seorang ibu yang menjaga bayinya agar tidak digigit nyamuk hingga buah hatinya itu bisa tidur dengan pulas, misalnya. Penjagaan adalah salah satu bentuk ekspresi dari rasa cinta kita terhadap sesuatu, yang karena cinta itu timbulah rasa sayang. Penjagaan juga bisa berarti bahwa mengawasi agar apa yang diawasi itu selalu berada pada koridor yang benar dan menjadi baik. Misalnya seorang ayah, akan berbeda ketika dia menanggapi anak tetangganya dengan anaknya yang seharian bermain playstation, kalo anak tetangga mungkin dia tidak ambil pusing dan membiarkannya saja. Tapi karena ingin melihat anaknya baik, maka dia akan membatasi anaknya untuk sesuatu yang membuang-buang waktu tanpa memberikan kebaikan baginya kelak, maka disuruhlah anaknya untuk lebih banyak belajar. Bahkan mungkin kalo perlu pake acara ngomel-ngomel ato ditambah dengan cubitan sayang jika anaknya membandel

Pada dasarnya menjaga adalah salah satu ekspresi kecintaan. Seorang saudara yang mencintai dan menyayangi saudaranya karena Allah pastilah selalu menjaga saudaranya untuk terus berada dalam jalan kebenaran. Inilah yang mungkin sekarang saya melihatnya sudah mulai berkurang dalam interaksi kita. Apakah sikap cuek kita disebabkan kesibukan kita, ato karena memang perasaan cinta itu yang sudah mulai menguap dalam hati kita karena kita sudah tidak peduli lagi untuk merawatnya tumbuh di taman cinta hati kita..

“hallo, aswb. Gimana kabar antum? Lg dimana?”, “akhi, kenapa antum pake sepatu yang kiri dulu?”, “akhi, kok makannya sambil berdiri, pake tangan kiri lagi (ndak bagi-bagi pula hihihihi..)”. “akhi, kenapa pekan lalu gak datang liqo”, “sepertinya nt ada masalah, ada yg bisa sy bantu?”, “ukhti, kenapa dandanannya setiap hari menor sekali? Tabarruj itu!”, “astagfirullah... ganti topik lain saja deh, takutnya kita sedang berghibah”, “ukhti, kenapa kemalaman pulangnya, siapa yang antar semalam?”, “ukhti, kok pake celana jeans?”,“afwan ya akh ana mau tabayyun , kemarin ana liat nt jalan berdua dengan seorang akhwat, saudara anti kah?”, dll (ini pertanyaan dari ikhwan untuk ikhwan, dan dari akhwat untuk akhwat lho)

Apa sikap kita kalo ada pertanyaan seperti itu ditujukan kepada kita? Merasa risih kah kita? Ato Mungkin sempat terbetik “neh orang gila urusan kali yah, sudahlah urusi dirimu sendiri!”. Ah... tidak kah kau tahu kawan kalo pertanyaan-pertanyaan seperti itu boleh jadi adalah ungkapan cinta dari seorang saudara yang menyayangi kita. Dan itulah bentuk penjagaannya kepada kita. Mungkin terdengar sewot tp boleh jadi dialah yang paling sayang diantara semua teman kita.

mungkin karena interaksi kita yang semakin lebih banyak dengan ‘dunia luar’ sehingga ada nilai-nilai yang mulai memudar dari diri kita. Dulu kita begitu menjaga diri sekarang mulai membuka diri dari apa yang dulu kita mungkin anggap tabu. Kebiasaan mendengar murottal mungkin mulai diganti dengan lagu-lagu ‘top of the top’ yg tentu bertemakan cinta, yang dinyanyikan artis-artis yang memang suaranya lebih bagus dan ngetop dimana-mana. “datanglah...., kedatangan mu ku tunggu, telah lama, telah lama ku menunggu....” (gedubraakkk...!!!!)

Semua itu terkadang kita lakukan dengan tidak menyadarinya, dan hanya mereka yang mencintai kitalah yang berusaha untuk menjaga kita, mengingatkan, mungkin dengan caranya bertanya. Ya.. mungkin dengan nada yang sedikit meninggi dan terkesan menggurui, atau apalah yang biasanya kita tangkap sebagai seseorang hakim yang sedang menyelidik. MUNGKIN...

Cobalah mengingat-ingat lagi seberapa kita peduli terhadap perubahan sikap saudara-saudara kita. Apakah kita termasuk orang yang sedih melihat mereka futur? Kemudian sudah kah kita menjaganya agar tidak semakin jauh dalam atmosfir kesalehan? Bertindak cepat agar dia bisa tersadar. Ato kita malah selalu ‘berhusnudzon’ ato pura-pura tidak tahu, ketika melihatnya mulai menjauh. “ah... mungkin dia sedang jenuh, paling nanti dia sadar sendiri”. Ato jangan-jangan kita langsung mencibirnya dan tidak peduli, “Aduh.. kok musti selalu mau diperhatikan?, harusnya dia yang sudah lama liqo itu bisa menjaga dirinya sendiri”.

Ikhwah, Bukankah Allah jika masih mencintai seorang hamba maka diberilah selalu teguran kepada hambaNya, ditanamkan kesadaran dalam diri hambaNya, agar hamba itu segera kembali ke jalan kebenaran dan selamatlah ia. Hatinya telah mendapatkan manisnya iman, maka ia akan sensitif merasakan pahitnya kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. Dan jika cinta Allah kepada hambaNya sudah tidak ada maka dibiarkanlah hamba itu semakin tersesat dalam kesesatannya. Dicabutlah kesadaran dan malu itu dalam hatinya. Bahkan mungkin ketika melakukan dosa dengan bangga dia berkata, “Liat nih gue...”! (naudzubillahi min dzalik). Dia dibiarkan terus dalam kesesatannya, Sehingga dia akan mendapat siksa yang amat teramat sangat pedih. “Maka biarlah mereka tenggelam (dalam kesesatan) dan bermain-main sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka.” (43:83)

Sangatlah menyedihkan kalo hidup ini tidak ada lagi yang berusaha untuk meluruskan saat kita mulai keluar jalur. Menguatkan saat kita lemah. Mengingatkan saat kita lupa. Membenarkan saat kita salah. Bukankah manusia adalah tempatnya salah dan khilaf?. Maka kita selalu disuruh untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Maka saling menjagalah kita, karena kita adalah saudara yang cintanya insya Allah karena Allah semata. Bersyukurlah jika banyak saudaramu yang menjagamu, dan berusalah untuk menjaga saudaramu agar kita bisa berkumpul kembali di surga kelak dan saling berkunjung.

“jika penghuni surga telah masuk surga, maka setiap saudara merindukan saudara yang lain. Lantas ranjang ini berjalan ke ranjang itu dan ranjang itu berjalan ke ranjang ini hingga keduanya berkumpul. Salah seorang dari keduanya berkata, “tahukah engkau kapan Allah memberi ampunan kepada kita?” jawab temannya, “ketika kita sedang berada di salah satu tempat, kita berdoa kepada Allah kemudian Allah memberi ampunan kepada kita”.(dari anas bin malik)--- (salah satu tempat itu saat liqo, rapat kita mengurus dakwah di sekolah, kampus, rapat kepanitiaan, saat mabit, dll)

Jadilah engkau kawan sebagai seorang saudara yang, “Senyum dan tutur nya selalu menggerakkanku untuk meraih surga, teguran dan marah nya mengingatkanku agar segera berpaling dari jalan neraka ku”. Yang selalu menyebut nama dan membayangkan wajah saudaranya dalam doa-doanya.

Mari kita saling menjaga karena saling mencintai karena Allah agar kita bisa menjadi sekelompok orang yang digambarkan oleh Rosulullah saw :
“Di hari kiamat, di sekitar arsy terdapat banyak mimbar yang terbuat dari cahaya. Di atas mimbar itu, ada sekelompok orang yang pakaiannya terbuat dari cahaya. Wajah mereka bercahaya. Padahal mereka bukanlah nabi dan bukan pula orang-orang syahid. Para nabi dan orang-orang syahid iri pada mereka.” Para sahabat bertanya, “siapa mereka, ya Rosulullah?” Beliau menjawab, “mereka adalah orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka saling mencintai karena Allah, padahal diantara mereka tidak terdapat ikatan keluarga dan tanpa adanya ikatan harta diantara mereka.”

Indahnya... bahkan para nabi dan syuhada pun iri kepada mereka yang saling mencintai karena Allah....

“Oh indahnya saling menjaga, saling mengasihi karena Allah....”

Source : Mujitrisno.multiply.com
Share this article :

Poskan Komentar

Berkomentarlah dengan Akhlak Yang Baik, Jika Ada Kekhilafan Maka Perbaikilah Dengan Akhlak Yang Baik, Komentar Yang Buruk Akan Kami Hapus Demi Ketertiban Blog " CINTA HAKIKI "

 
Support : Cara Gampang | Creating Website | Johny Template | Mas Templatea | Pusat Promosi
Copyright © 2011. Cinta Hakiki - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modify by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger